bethz05

Just another WordPress.com weblog

BALLADA LELAKI – LELAKI TANAH KAPUR

Para lelaki telah keluar di jalanan

Dengan kilatan – kilatan ujung baja

Dan kuda – kuda para penyamun

Telah tampak di perbukitan kuning

Bahasa kini adalah darah.

Di belakang pintu berpalang

Tangis kanak – kanak, doa perempuan.

Tanpa menang tiada kata pulang

Pelari akan terbujur di halaman

Ditolaki bini dan pintu berkunci.

Mendatang derap kuda

Dan angin bernyanyi :

‘Kan kusadap darah lelaki

terbuka guci – guci dada baja

bagai pedagang anggur dermawan

lelaki – lelaki rebah di jalanan

lambung terbuka dengan geram serigala !

O, bulu dada yang riap !

Kebun anggur yang sedap !

Setengah keliling memagar

Mendekat derap kuda

Lalu terdengar teriak peperangan

Dan lelaki hidup dari belati

Berlelehan air amis

Mulut berbusa dan debu pada luka.

Pada kokok ayam ketiga

Dan jingga langit pertama

Para lelaki melangkah ke desa

Menegak dan berbunga luka – luka

Percik – percik merah, dada – dada terbuka.

Berlumur keringat diketuk pintu.

Siapa itu ?

Lelakimu pulang, perempuan budiman !

Perempuan – perempuan menghambur dari pintu

Menjilati luka – luka mereka

Dara – dara menembang dan berjengukan

Dari jendela.

Lurah Kudo Seto

Bagai trembesi bergetah

Dengan tenang menapak

Seluruh tubuhnya merah.

Sampai di teratak

Istri rebah bergantung pada kaki

Dan pada anak lelakinya ia berkata :

Anak lanang yang tunggal !

kubawakan belati kepala penyamun bagimu

ini, tersimpan di daging dada kanan.

Advertisements

November 17, 2009 - Posted by | Ballada

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: