bethz05

Just another WordPress.com weblog

BALLADA KASAN DAN PATIMA

Bila bulan limau retak

Merataplah Patima perawan tua

Lari ke makam tanah mati

Buyar rambutnya sulur rimba

Di tangan bara dan kemenyan

Patima ! Patima !

Susu dan mata padat sihir

Lelaki muda sepikan pinangan

Dipanasi ketakutan guna – guna

Patima ! Patima !

Ditebahnya gerbang makam

Dema segala peri dan puntianak

Diguncangnya segala tidur pepokok kemboja

Dibangunkan segala arwah kubur – kubur rengkah

Dan dengan suara segaib angin padang belantara

Dilagukan masmur dan leher tembaga

Mendukung muka kalap tengadah ke pusat kutuk :

Duh, bulan limau emas, jejaka tampan desak – desakkan wajahmu ke dadaku rindu biar pupus dendam yang kukandung panas bagai lahar, bagai ludah mentari.

Patima yang celaka ! Patima ! duka apa, siksa apa ?

Peri – peri berapi, hantu – hantu kelabu himpun kutuk, sihir dari angina parang telanjang dan timpakan atas kepala Kasan !

Akan rontok asam dan trembesi berkembang karena Kasan lelaki bagai lembu, bagai malam dosa apa, laknat apa ?

Perihnya, perihnya ! Luka mandi cuka Kasan tinggalkan daku, meronta paksaku terbawa bibirnya lapis daging segar mentah penghisap kuat kembang gula perawan.

Dan angin berkata :

Berlindung tudung senja mendung berkendara pedati empat kuda

Dan ditinggalkan daku bersama berahi putih membelai kambing – kambing jantan di kandang.

( Oleh nyalanya Patima rebah)

Beromong angin, dedaun gugur dan rumputan :

Bini Kasan ludahnya air kelapa.

Dan mata tiada nyala guna – guna.

Anaknya tiga putih – putih bagai ubi yang subur.

Kasan, ya, Kasan ! Ku tahu siapa Kasan !

Pada malam bintang singgah di matanya

Lelaki sesampai berdarah panas

Di dadanya tersimpan beberapa wajah perawan

Dan di atas diriku ini disaksikan

Lima dara begitu pasrah dalam pejam mata

Berikan malam berbunga, rintihnya bagai nyanyi

Dan Kasan mendengus bagai sampi.

Kutuknya menunggu pada Patima !

Tanpa cinta diketuknya jendela perawan tua itu.

Datang kutuknya ! Datang kutuknya !

Patima menguncinya bagi hati sendiri

Sekali dirasa diperturutkannya

Didamba bagai bunga, diusap bulu kakinya

Bagi dirinya cuma ! bagi dirinya cuma !

: maunya.

Datang kutuknya ! Datang kutuknya !

Dan kini ia lari karena bini mau melati lezat ludahnya air kelapa.

Bau kemenyan dan kamboja goncang

Bangkit Patima mencekau tangan reranting tua

Menjilat muka langit api pada mata

Dilepas satu kutuk atas kepala Kasan ! Ya, Kasan !

Dan Kasan berkendara pedati empat kuda

Terenggut dari arah dalam buta mata

Terlempar ke gunung selatan tanah padas

Meraung anak bini, meringkik kuda – kuda

Dan semua juga kuda dikelami buta mata.

Datang kutuknya ! Datang kutuknya !

Pada malam – malam bergemuruh di tanah kapur selatan

Deru bergulung dipunggung gunung – gunung

Bukan deru angin jantan dari rahim langit

: deru Kasan kembara berkendara pedati empat kuda

Larikan kutuknya lekat, kecut cuka panas bara.

Advertisements

November 17, 2009 - Posted by | Ballada

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: